Langsung ke konten utama

Benang Kusut #JejakKeduapuluhdua


Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang masuk ke dalam pikiran. Banyak sekali! Sampai bingung sendiri.

Baiklah..

Saya akan mencoba menguraikan benang kusut yang ada di pikiran ini.

Sebagian besar isi otak saya saat ini mungkin adalah skripsi tercinta. Pusing sekali mengerjakan material flow untuk kedua industri ini. Memang sebagian besar salah saya karena saya kurang teliti pada saat pengukuran langsung di lapangan. Akhirnya pada saat perhitungan, pusingnya setengah mati. Setelah bersusah payah merangkak melewati beratnya beban perhitungan material flow ini, akhirnya baru saja saya selesaikan. Tapi sejujurnya masih ada beberapa data yang aneh. Tapi nggak juga sih. Haha.. Pokoknya pasrahkan diri pada asistensi yang menunggu di minggu ini. Sudah terlalu lama diri ini mengalihkan perhatian dari skripsi yang saat ini paling membutuhkan perhatian. Terlalu lama sampai-sampai batin ini menjadi tidak tenang. Maaf ya lebay, tapi memang itu kenyataannya. Ada satu kutipan yang sesuai sekali dengan kondisi saat ini..
Because my consience leaves me no other choice.” - Dr. Martin Luther King Jr.
Kutipan ini saya dapatkan dari track-nya Linkin Park yang berjudul Wisdom, Justice and Love. Kenapa saya sebutnya track bukan lagu? Karena isi dari track itu berisi suara Dr. Martin Luther King Jr. Agak sulit menjelaskannya, jadi coba disearch aja di google dan dengarkan sendiri. Balik lagi ke topik awal, my conscience seriously leaves me no other choice but faces the reality. Nggak bisa melarikan diri lagi, karena sang waktu terus berjalan tanpa beristirahat sedetik pun. Tanpa terasa saat ini sudah pertengahan April. Semoga rencana saya untuk menyelesaikan skripsi ini akhir April bisa tercapai. Bukannya apa-apa, tapi saya ingin cepat menyelesaikan skripsi ini dan mulai mencari pekerjaan tanpa adanya pikiran mengenai skripsi yang belum selesai. Saya ingin bisa langsung bekerja setelah lulus nanti. Amien..

Untuk pekerjaan sendiri, saat ini saya melakukan kerja sambilan sebagai transkriptor. Pada tau kan ya apa itu transkriptor. Saya kerja sambilan di dua perusahaan market research. Beberapa hari lalu sempat mengerjakan satu transkrip dan honor yang diterima pun lumayan. Saya merasa saya berada pada tahap di mana saya tidak ingin merepotkan orang tua saya lagi. Sudah lama sebenarnya saya ada di tahap ini, namun kerja sambilan ini membuat mata saya terbuka lebar dan pandangan saya terus berjalan ke depan. Bukan sekedar perkataan yang biasa diucapkan kapanpun.

Saya kagum pada beberapa orang dosen saya. Salah seorang dosen menyatakan bahwa dirinya sudah mencapai tahap di mana bukan bekerja karena uang.
“Uang hanya simbol kemandirian dari segi ekonomi. Masih banyak hal penting lainnya.”
Pada saat kuliah yang lain, seorang dosen menjelaskan bahwa menjadi engineer adalah merekayasa sistem agar sesuai dengan maunya kita. Maunya kita adalah masyarakat sejahtera. Tapi hal ini sering sekali dilupakan.
“Apakah jika masyarakat semuanya dikasih kemeja, smartphone dan Apple harkat hidup mereka meningkat? Tidak. Meningkatkan harkat hidup itu dari hati, menggunakan pikiran.
Masih ada yang lain sebenarnya. Saya menyesal sekali tidak mencatat perkataan mereka. Luar biasa sekali dosen-dosen saya. Saya juga ingin sekali menjadi seperti mereka.

Pada beberapa aspek, saya juga merasa bahwa saya menjadi lebih dewasa. Pada suatu kondisi di mana seseorang mengambil keputusan pada satu pilihan, maka semua konsekuensi yang ada pada pilihan itu sudah sewajarnya diterima dengan hati yang lapang. Saya bersyukur bahwa selama ini saya tetap berada pada jalan yang memang sudah seharusnya. Beberapa orang mengeluh pada pilihan yang telah diambilnya. Hingga saya sempat berpikir, “ini gw yang salah atau…”. Tidak perlu dilanjutkan karena saya sudah tau jawabannya.

Satu sisi dari dunia ini terlihat begitu berkilauan. Terlalu menyilaukan untuk outsider seperti saya. Terlalu banyak keinginan yang tidak bisa diungkapkan dan tetap tersimpan rapat. Dunia ini terlalu jauh dari gapaian tangan saya. Berlari sekuat tenaga pun tidak akan bisa membuat saya menjadi lebih dekat. Sejenak saya lupa bahwa masih ada sisi lain dari dunia ini. Saya lupa. Saya terlalu terpana akan indahnya kilauan dunia itu. Saat saya tiba-tiba tersadar, saya tertawa. Lega sekali rasanya. Apakah kalian mengerti?

Hmm.. untuk hal-hal yang berkaitan dengan masalah yang satu itu, tidak ada yang berubah. Sampai saat ini masih saja berharap. Tapi setelah menonton dua anime itu, timbul satu harapan lagi. Semoga menjadi kenyataan ya haha..

Entah benang kusut ini sudah terurai atau belum. Setidaknya perasaan ini menjadi lebih lega dari sebelumnya. Masih banyak hal yang harus dilakukan dan masih banyak hal yang harus diperbaiki dari dalam diri ini. Semangat.. semangat.. Let’s keep moving forward

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hambatan Dalam Kepemimpinan

Sering menyalahkan situasi
Seorang koruptor yang dihadapkan ke pengadilan mengatakan bahwa ia sebenarnya korban situasi. Sebenarnya ia bukan korban situasi, namun ia melarutkan diri dalam situasi dan menggunakan situasi sebagai alasan untuk berbuat jahat. Situasi melahirkan pemimpin yang cocok untuk zamannya. Sejarah telah membuktikan kebenarannya. Kebanyakan panglima perang menunjukkan wibawanya pada masa peperangan tetapi tidak cocok memimpin kelompoknya pada masa damai dan tenteram. Pemimpin yang dapat melihat situasi yang dihadapi dan cerdas menanggapinya, mampu memberikan perintah pada saat yang tepat dan mengambil inisiatif. Pemimpin seperti ini tidak perlu menjadi ahli di bidangnya tetapi memahami pengetahuan umum di bidang itu. Di samping itu anda tentu saja harus memiliki kemampuan teknis dan profesional agar anda berwibawa dalam mengatur roda kepemimpinan serta mengambil keputusan yang komunikatif dan meyakinkan.
Tidak berhasil memotivasi mereka
Kebolehan seorang pemimpin berg…

Itinerary and Budget South Korea Trip [May 2016]

Setelah sepuluh postingan sebelumnya itu menceritakan tentang kejadian apa aja yang terjadi selama perjalanan gw, Nono dan Anita di Korea Selatan pada tanggal 1 – 10 Mei 2016, kali ini gw akan memposting mengenai keseluruhan itinerary kita dan juga budget gw selama traveling kemaren.
Sebelum liat itinerary aktual kita pas di Korea Selatan, ini gw kasih liat itinerary yang kita rencanain sebelum berangkat: (please click and then open image in new tab for bigger resolutions)

Sajak Putri dan Pangeran karya Tere Liye

Beberapa hari yang lalu, gw dapat kabar bahagia karena salah satu teman baik sepertinya akan menikah tahun ini hihihi.. Gw agak sedikit gak percaya, tapi ternyata orangnya sendiri pun gak percaya juga kalau dia mau nikah tahun ini hahaha..
I’m really, really happy for her. But deep down, I feel a little bit envious :’) Pengen bisa segera ketemu juga sama si jodoh huhu.. Tapi balik lagi, timeline hidup gw dan teman baik gw itu jelas berbeda. Mungkin memang tahun ini adalah waktunya dia untuk menikah. Gw berdoa dan berharap semoga bisa segera menyusul dia, aamiin.
Lalu tiba-tiba kepikiran salah satu sajak yang ada di Kumpulan Sajak “Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta” karya Tere Liye. Sajak itu berjudul “Sajak Putri dan Pangeran” di halaman 49.

Aku akan jatuh cinta, tentu saja
Seorang putri selalu jatuh cinta
Tapi tidak sekarang atau hanya untuk urusan murah
Aku akan jatuh cinta, kepada seorang pangeran
Yang datang dengan gagah berani
Mengambil tanggung jawab dalam hubungan yang …

Materi Seminar Nikah Visioner

Tanggal 12 Agustus 2018, gw sama Zata dateng ke Seminar Nikah Visioner yang diadakan oleh @bridetalkid dan @nurani_fkmui. Lokasi seminarnya di Aula Auditorium A FKM UI, Depok. Awalnya pas Zata ngajak gw, gw rada males gitu karena pagi-pagi harus berangkat ke Depok dan hari minggu pula. Saat pendaftarannya mau tutup, tiba-tiba jadi pengen ikut. Niat awalnya sih for the sake of bahan postingan blog. Tapi setelah ikut seminarnya gw malah jadi bersyukur karena alhamdulillah banyak ngasih wawasan baru.

Narasumber seminar ini adalah Ummu Balqis. Di pembukaan, Ummu bilang bahwa beliau tertarik mengenai pembahasan pernikahan dan parenting. Beliau bilang bahwa dengan mendidik seorang ibu bisa mencetak beberapa pemimpin. Sementara dengan mendidik bapak itu bisa mencetak pemimpin untuk satu organisasi atau setidaknya keluarganya sendiri. "Tiga hal yang seriusnya dianggap benar-benar serius dan bercandanya dianggap serius, yaitu nikah, cerai dan rujuk” diriwayatkan oleh Al Arba’ah kecuali A…